Menu

12 Triliun Rupiah untuk TON, Blockchain Telegram Bikin Penasaran

  Dibaca : 858 kali
12 Triliun Rupiah untuk TON, Blockchain Telegram Bikin Penasaran

TON, rencana Blockchain Telegram bikin penasaran publik. TON tampaknya akan memantik rasa penasaran publik dan bukan tidak mungkin akan menapaki jalan yang mulus, setelah Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (AS) beberapa hari yang lalu memublikasikan angka investasi yang diterima Telegram dalam tahap presale perdana TON. Dalam publikasi tersebut, besaran tawaran investasi terisi 100 persen, yakni US$850 juta atau setara dengan 12,1 triliun rupiah dari 81 entitas investor. Menurut Financial Times, Kleiner Perkins Caufield & Byers, Benchmark dan Sequoia Capital telah menginvestasikan sebesar US$20 juta.

Dengan angka sebesar itu, ICO TON adalah yang terbesar saat ini, melebihi ICO Filecoin (US$257 juta) dan Tezos (US$232 juta). Tertera pula dalam publikasi tersebut, perusahaan penawar investasi adalah TON Issuer Inc dan Telegram Group Inc, yang bermarkas di Virgin Island, Inggris atas nama Pavel Durov dan Nikolai Durov.

Masuk dalam kategori Form D, publikasi itu adalah sekaligus pemberitahuan, bahwa investor yang berdomisili di wilayah Amerika Serikat yang ingin berinvestasi minimal merogoh kocek US$1 juta. Angka itu setara dengan penghasilan US$200 ribu per tahun. Jika mengaitkan dengan tanggal pengumuman ICO TON dan jadwal presale pada 29 januari 2018 lalu dengan terdaftarnya perusahaan Durov itu di Amerika Serikat, maka besar kemungkinan warga AS sendiri adalah bagian besar dari 81 investor tersebut.

Dilansir dari media lokal Rusia, Vedomosti, miliarder asal Negeri Beruang Merah, Roman Abramovich dikabarkan sudah menanamkan modal sebesar US$300 juta di TON. Namun, sumber lain mengungkapkan Abramovich menaruh duit US$20 juta saja.

“Selain itu, ada Sergei Solonin, CEO penyedia layanan pembayaran digital QIWI diyakini menyetor duit US$17 juta. Menyusul di belakangnya David Yakobashvili, saudagar ternama di balik perusahaan Wimm-Bill-Dann. Kepada Telegram, ia berani merogoh kocek sedalam US$10 juta,” tulis Vedomosti.

Mengacu pada whitepaper, TON (Telegram Open Network) adalah platform blockchain yang sangat berbeda dari sejumlah teknologi blockchain yang telah ada sekarang. Yang menarik ditelisik lebih jauh adalah soal mekanisme skalabilitas jaringan yang secara otomatis split atau merge, ketika jaringan sudah overload dan sebaliknya. Ini bermakna terciptanya blok transaksi akan lebih cepat dan fee lebih kecil. Hal mendasar lainnya, uang digital TON yang disebut GRAM memungkinkan diintegrasikan dengan Telegram, supaya pengguna dapat melakukan transaksi secara langsung.

Selain itu ada fitur TON Storage dan TON Proxy. TON Storage mengadopsi teknik penyimpanan data ala Torrent dan smart contract. Sedangkan TON Proxy memampukan IP simpul TON tersamarkan, sehingga privasi dapat terjaga.

Namun demikian, agak janggal bahwa paparan dalam whitepaper tersebut tidak terlalu teknis untuk menegaskan keunggulan blockchain yang dianggap “paripurna” itu. Hingga saat ini presale putaran kedua sedang berlangsung secara privat, tidak publik seperti putaran pertama. Sedangkan public sale direncanakan pada pertengahan bulan depan.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional