Banyak Penambang Ethereum Beralih Karena Merugi | Edukasi Bitcoin

Banyak Penambang Ethereum Beralih Karena Merugi

Banyak Penambang Ethereum Beralih Karena Merugi

Altcoin
September 12, 2018 by adi
1229
Ekosistem pertambangan kripto mempunyai banyak faktor yang saling mempengaruhi. Termasuk juga dalam ekosistem pertambangan Ethereum. Dalam beberapa pekan terakhir, harga Ethereum kian terpuruk. Menurunnya harga itu juga membuat kondisi ekosistem pertambangan menjadi menurun. Tentu saja, karena penambang juga harus membayar kebutuhan untuk energi listrik, koneksi, dan waktu yang terbuang.
Penambang Ethereum Beralih

Harga Kian Turun, Banyak Penambang Ethereum Beralih

Saat tulisan ini dibuat, harga Etherum kian turun hingga senilai Rp. 2,6 juta per keping. Bagi para penambang ethereum, tentu saja hal itu dianggap cukup merugikan. Di forum Ethereum Reddit, banyak para penambang yang mulai beralih untuk menambang kripto lain.

Salah seorang pengguna Reddit di forum ethereum dengan username Admin5668, memposting tentang aktifitas pertambangannya yang menurun enam hari lalu. Kondisi tersebut diperparah dengan kian menurunnya harga Ethereum.

Baca Juga: Mining Pool Khusus Low Diff

Di dalam postingnya ia menyebut bahwa kebanyakan pendapatan para penambang Ethereum menurun drastis. Menurutnya, banyak para penambang yang lain mengalami hal yang sama. Dari yang semula mampu menghasilkan reward block sejumlah 3 ETH menjadi 2 ETH saja.

Pengurangan reward block tersebut memang dilakukan menindaklanjuti agenda hard fork Ethereum yang rencananya mulai berlaku bulan Oktober mendatang. Usulan pengurangan reward block itu disebut dengan istilah Constantinople. Meski diagendakan Oktober mendatang, namun nampaknya code pengurangan itu telah dimasukkan kedalam core Ethereum.

Baca Juga: Enam GPU Terbaik Untuk Mining

Saat tulisan ini dibuat, harga Ethereum berkisar Rp. 2,6 juta per ETH. Maka jika pendapatan itu menurun menjadi hanya 2 ETH saja, tentu akan cukup merugikan bagi para penambang. Admin5668 beranggapan banyak penambang yang telah beralih untuk menambang kripto lain seperti ETC atau kripto sejenis lain.

Dari sejumlah komentar yang muncul, sebagian besar mengeluh karena pendapatan mereka tak lagi mencukupi untuk membayar besaran pengeluaran konsumsi energi untuk pertambangannya. Wajar saja, menurunnya harga tersebut memang akan mempengaruhi ekosistem pertambangan.

Belum lagi, tingkat difficulty pertambangan Ethereum kian melonjak tinggi. Jika besaran hashrate Ethereum pada bulan yang sama, September 2017 berkisar sekitar 100.000 GH/s, sedangkan pada September 2018 ini menjadi 295 GH/s. Seperti yang kita ketahui, besaran hashrate tersebut identik dengan meningkatnya tingkat difficulty pertambangan.

Munculnya Ethereum ASIC

Sejak awal bulan April lalu, Bitmain memang telah merilis chip Antminer E3. Perangkat ASIC ini diproyeksikan untuk bisa menambang Ethereum. Pada saat pertama kali dirilis, perangkat tersebut dibandrol hanya senilai USD 800. Harga perangkat tersebut kurang lebih berkisar Rp. 11, 5 juta di kurs rupiah saat ini.

Pada waktu itu, peluncuran perangkat ASIC itu dianggap tidak lagi mengherankan. Meskipun gembar-gembor Ethereum selama ini adalah ASIC Resistance (anti ASIC). Munculnya perangkat ASIC di ekosistem pertambangan Ethereum, secara tidak langsung menjadi hantaman besar bagi para penambang lain, terutama untuk para penambang skala kecil.

Alih-alih berupaya untuk melindungi ekosistem pertambangan dari ASIC, para pengembang Ethereum dikabarkan telah mempersiapkan implementasi ProgPoW. Yang dimaksud ProgPoW ini adalah salah satu alternatif penggunaan algoritma baru yang diharapkan mampu menahan perangkat ASIC.

Implementasi ProgPoW tersebut, nantinya akan digunakan untuk menggantikan Ethash yang saat ini digunakan di Ethereum. Namun pihak pengembang menerangkan implementasi ProgPoW tersebut besar kemungkinannya tidak akan dilakukan dalam waktu dekat, termasuk pada hard fork Oktober nanti.

Add a comment