Memahami Atomic Swap – Berperan Penting Untuk Perdagangan Kripto

Memahami Atomic Swap – Berperan Penting Untuk Perdagangan Kripto

Memahami Atomic Swap – Berperan Penting Untuk Perdagangan Kripto

Bitcoin Jurnal
May 23, 2018 by adi
2514
Atomic Swap digadang-gadang bakal menjadi dasar pijakan penting mewujudkan bursa kripto P2P. Penerapan Atomic Chain, sudah pernah dilakukan dan berhasil dengan mulus pada bulan September 2017 lalu. Saat itu Atomic Chain ini sudah berhasil mulus dilakukan antara Litecoin dan Decret. Transakti tersebut menjadi transaksi Atomic Chain pertama yang berhasil dilakukan secara on-chain.
Atomic Swap

Atomic Swap adalah sebuah metode untuk dapat memperdagangkan atau mempertukarkan mata uang berbasis kripto (Cryptocurrency), secara otomatis, tanpa memerlukan pihak ketiga. Di dalam perkembangan dunia kripto, penggunaan metode Atomic Swap diyakini dapat menjadi solusi tepat dalam mewujudkan sebuah bursa perdagangan kripto yang lebih efisien, aman, dan juga tanpa campur tangan dari pihak ketiga sebagai pihak penyedia layanan.

Baca Juga: Cara Kerja Bitcoin – Aplikasi Scrypt Bitcoin

Bagaimana sebenarnya memahami konsep Atomic Swap? Mari kita coba lihat pada contoh dibawah ini:

  1. Adi mempunyai 2 BTC, dan 3 ETH
  2. Erina mempunyai 13 ETH

Erina ingin menukarkan 13 ETH miliknya, untuk 1 BTC dari milik Adi. Erina tentu tidak ingin dicurangi jika Ia memutuskan untuk megirim 13 ETH miliknya. Begitupun juga Adi yang sama tidak ingin dicurangi jika telah mengirim 1 BTC kepada Erina.

Jika pada cara yang konvensional, Erina bisa menggunakan bursa kripto dengan cara menjual 13 ETH tersebut, lalu membeli sejumlah 1 BTC di bursa itu, dan mengirimkan ke wallet pribadinya. Tentu saja cara tersebut akan membutuhkan biaya, baik fee pada saat menjual sejumlah ETH itu, fee saat membeli BTC, dan juga fee untuk mengirim transaksi dari bursa konvensional ke wallet BTC pribadi Erina.

Cara kedua, Erina dapat menggunakan layanan pihak ketiga lainnya seperti layanan escrow. Namun bagaimanapun, Erina mungkin akan berfikir yang sama, bahwa layanan pihak ketiga tersebut tetap berpotensi merugikan bagi kedua belah pihak.

Dalam hal ini, Atomic Swap dapat mewujudkan transaksi antara Erina dan Adi diatas, tanpa harus melalui pihak ketiga manapun. Sehingga, transaksi itupun dapat berjalan tanpa perlu khawatir salah satu diantara mereka akan bisa mencurangi transaksi.

Cara Kerja Atomic Swap

Seperti yang kita lihat pada contoh diatas tadi, kita dapat melihat bahwa Atomic Swap di desain sedemikian rupa untuk bisa menangani transaksi antar dua mata uang kripto yang berbeda. Atomic Swap menjadi metode yang bisa mempertukarkan mata uang kripto secara “cross chain”, langsung, tanpa melalui layanan pihak ketiga manapun.

Cara kerja Atomic Swap, dapat dilakukan melalui dua cara:

  1. On-chain
  2. Off-chain

Antar keduanya cara diatas, Atomic Swap bekerja dengan menggunakan Hashed Timelock Contracts (HTLCs). Penggunaan HTLC ini, adalah berasal dari konsep komunitas bitcoin yang mengimplementasikan Lightning Network.

Hashed Timelock Contracts – HTLCs

HTLC adalah sebuah metodologi sistem pembayaran, dengan menggunakan fungsi hashlocks dan timelock. Baik hashlock dan timelock tersebut harus disertakan agar penerima transaksi dapat mengetahui pengiriman transaksi dilakukan, lalu kemudian generate proof of payment untuk klaim pembayaran tersebut, dan diserahkan kepada pengirim transaksi.

Saat penerima transaksi tersebut generate key proof of payment, itu juga dapat berfungsi sebagai sebuah pemicu eksekusi transaksi di pihak lainnya. Sehingga, secara keseluruhan, HTLC menjadi sebuah metode pembayaran secara langsung yang cukup produktif dan aman untuk kedua belah pihak dalam sebuah transaksi.

Sedangkan fungsi timelock itu, sebagai sebuah jaminan berbasis batas waktu tertentu, jika syarat dan kondisi dalam kontrak tersebut tidak terpenuhi dan gagal, sedangkan telah melewati batas waktu yang telah ditentukan, maka secara otomatis sejumlah dana antar kedua pihak di masing-masing chain akan otomatis kembali.

Dalam garis besar cara kerjanya, HTLC ini berfungsi sebagai sebuah kontrak dengan menggunakan transaksi multisignature, hampir sama seperti transaksi Lightning network. Kontrak dalam sistem HTLC ini berfungsi untuk sama-sama menahan transaksi dengan menambahkan syarat dan kondisi tertentu. Ketika syarat dan kondisi tersebut terpenuhi, maka secara otomatis pula kontrak tersebut dapat dieksekusi secara otomatis antar kedua belah pihak.

Ilustrasi cara kerja Atomic Swap
Ilustrasi cara kerja Atomic Swap (Gambar: Coincentral)

Mari kita lihat lebih detailnya dalam contoh di awal, pada transaksi antara Adi dengan Erina. Pada contoh tersebut, Erina ingin menukarkan 13 ETH untuk 1 BTC milik Adi. Dalam hal ini, kita sebut saja bahwa Erina sebagai inisiator transaksinya, karena transaksi tersebut berawal dari inisiatif Erina yang ingin menukarkan ETH miliknya dengan 1 BTC milik Adi.

Untuk mulai menggunakan Atomic Swap, Erina bisa memulainya dengan membuat sebuah address kontrak baru. Address kontrak tersebut berfungsi layaknya kotak penyimpanan khusus dalam transaksinya.

Erina lalu menyetor 13 ETH di address kontrak tersebut, lalu membuat satu string secret (hash) yang berfungsi sama seperti sebuah key. Pada dasarnya, nilai hash yang baru digenerate Erina tersebut berfungsi sebagai sebuah kunci untuk bisa mengakses kotak simpanannya tersebut. Selanjutnya, Erina menyerahkan key hash tersebut kepada Adi.

Setelah Adi menerima, lalu ia membuat address kontrak yang sama dengan key hash tersebut. Setelah kotak simpanan Adi berhasil dibuat, ia lalu menyetor 1 BTC kedalamnya. Dalam hal ini, antara kotak simpanan Erina dan Adi, sama sama menggunakan key hash yang sama.

Nah, agar Erina dapat menarik 1 BTC di kotak simpanan Adi, Erina lantas menandatangani kotak simpanan Adi. Hal yang sama dengan Adi, ia juga menandatangani kotak simpanan Erina untuk bisa menarik 13 ETH milik Erina.

Saat Erina menandatangani address kontrak di kotak simpanan Adi, Erina menggunakan key yang sama saat generate key hash kotak simpananya. Sehingga Erina bisa membuka kunci kotak simpanan Adi beserta 1 BTC yang ada didalamnya. Begitu Erina membuka akses kotak simpanan Adi, pada dasarnya Erina juga mengungkapkan key hash untuk kotak simpanannya kepada Adi. Maka kedua belah pihak sama-sama bisa saling menyelesaikan transaksinya, tanpa ada kecurangan di salah satu pihak.

Kontrak antar keduanya di masing-masing kotak simpanan antara Erina dan Adi, pada dasarnya sama-sama menyertakan persyaratan yang sama. Sehingga tidak bisa membuat kecurangan. Hal tersebut dapat dilakukan, bahwa pada dasarnya pada saat Erina membuat address kontrak sebagai kontrak simpanannya, didalamnya terdapat persyaratan. Kurang lebihnya, isi persyaratan tersebut berbunyi, “Jika anda ingin menarik 13 ETH ini, anda harus membuat key hash”.

Hal yang sama saat Adi membuat address kontrak dari key yang didapat dari Erina. Address kontrak di kotak simpanan miliknya juga terdapat persyaratan yang berbunyi, “Baik, saya belum memperoleh key jika anda belum mengirimnya. Kirimkan key tersebut untuk bisa membuka 1 BTC, sehingga saya juga bisa membuka 13 ETH itu”.

Sehingga, dengan persyaratan antar kedua pihak tersebut, sama-sama akan bisa menyelesaikan transaksi tersebut. Tanpa ada salah satu pihak yang dicurangi. Secara garis besarnya, metode tersebut menjadi cukup efektif, dan juga aman. Dapat berjalan secara langsung antar kedua belah pihak, tanpa adanya campur tangan dari pihak ketiga.

Mengapa Atomic Swap Menjadi Cukup Penting

Jika kita melihat bagaimana potensi besar Atomic Swap seperti pada contoh diatas, maka hal tersebut dapat membuat iklim pertukaran dan perdagangan kripto menjadi jauh lebih aman. Tentu saja hal ini menjadi cukup penting jika kita melihat bagaimana potensi kerugian bagi pengguna jika kita melihat skema bursa-bursa kripto konvensional selama ini.

Bursa-bursa kripto konvensional yang umumnya menggunakan sistem terpusat, dengan pusat kelola yang terpusat, selalu berpotensi merugikan pengguna. Baik potensi serangan peretas, tertekan dengan regulasi yang mungkin bisa datang secara tiba-tiba, potensi penipuan dan banyak lagi yang lainnya.

Beberapa hal yang perlu dipahami adalah, bahwa antar kedua blockchain tersebut juga harus terlebih dahulu sama-sama menerapkan fungsi Atomic Chain agar bisa berjalan. Selain itu, Atomic Chain juga berlaku untuk jenis algoritma yang sama di kedua blockchain tersebut.

Atomic Swap Sudah Berhasil Diterapkan Sejak 2017

Penerapan Atomic Swap, sudah pernah dilakukan dan berhasil dengan mulus. Tepatnya pada bulan September 2017 lalu, Atomic Swap ini sudah berhasil mulus dilakukan antara Litecoin dan Decret. Transakti tersebut menjadi transaksi Atomic Chain pertama yang berhasil dilakukan secara on-chain.

Sedangkan untuk transaksi Atomic Swap secara off-chain pertama kali, berhasil dilakukan di bulan Nopember 2017 lalu menggunakan Lightning Network Bitcoin. Saat itu, transaksi itu dilakukan dari bitcoin ke Litecoin.

Jika kita melihat dari dua contoh transaksi Atomic yang berhasil dilakukan baik secara off-chain dan on-chain itu, kita melihat begitu besar potensi penerapannya. Pengembangan Atomic Swap akan menjadi bagian dari evolusi bursa kripto untuk bisa menerapkan pertukaran kripto secara terdesentralisasi sepenuhnya.

Tidak hanya itu, pengembangan Atomic Swap bahkan juga telah banyak dilakukan di beberapa proyek kripto, misalnya saja di Altcoin.io maupun Komodo yang menggunakan Atomic Swap pada BarterDex di dalam platformnya.

Dalam tahap pengembangan lebih lanjut, kita mungkin dapat melihat proyeksi kedepan Atomic Swap yang telah diintegerasikan di beberapa platform wallet kripto. Jika hal ini bisa terwujud, maka iklim dunia kripto menjadi jauh lebih dinamis, dan lebih aman.

Add a comment