Menu

MUI Malang Haramkan Bitcoin

  Dibaca : 1050 kali
MUI Malang Haramkan Bitcoin

MUI Malang Haramkan Bitcoin – Tidak Diakui Pemerintah Indonesia

MUI Malang. Di sebuah koran harian JawaPos Radar Malang, yang terbit pada hari ini, 10 Mei 2016, diberitakan tentang pendapat MUI kota Malang terhadap Bitcoin. MUI Malang menyebut bahwa transaksi Bitcoin haram dan tidak diakui oleh pemerintah Indonesia.

Munculnya hal semacam ini tentu makin terlihat bahwa masyarakat masih banyak yang tidak mengerti tentang apa dan bagaimana sebetulnya Bitcoin. Terlebih tentang teknologi yang melingkupinya.

Di dalam harian itu disebutkan komentar dari KH Chamzawi, Ketua Komisi Fatwa MUI kota Malang yang mengatakan, “Karena Bitcoin ini tidak diakui pemerintah (Bank Indonesia) dan boleh dibilang ini haram,” terangnya.

Ia mendasarkan pendapatnya itu berdasarkan sebuah tafsir dari ayat Al Quran yang menerangkan bahwa umat mukmin diharuskan taat kepada pemimpin (pemerintah) dalam tujuh hal. Salah satu dari ketujuh hal tersebut adalah tentang mata uang.

Harian JawaPos Radar Malang - Sebut MUI haramkan Bitcoin

Harian JawaPos Radar Malang – Sebut MUI haramkan Bitcoin

Ketua Komisi Fatwa MUI kota Malang tersebut menilai bahwa sebuah transaksi keuangan, sumber uang yang diperoleh haruslah jelas. Dalam Islam menuntut kejelasan di setiap transaksi agar memenuhi syarat jual beli.

Sedangkan, ia melihat Bitcoin dihasilkan dari sebuah alat yang menghasilkan uang secara otomatis. Sehingga sudah jelas unsur haramnya. Terlebih koin yang didapat tidak mempunyai bentuk yang jelas dan hanya tersimpan di sebuah dompet virtual (e-wallet). Terkait dengan bentuk simpanan di rekening, ia melihat hal yang berbeda meski pada dasarnya mempunyai prinsip yang sama. Ia berpendapat, karena bentuk uangnya tidak bisa dipegang secara langsung.

Sementara uang di rekening dalam bentuk deposito juga masih bisa berbunga dan masih diperbolehkan meski menjurus kepada praktek riba. Karena hal tersebut, ia menganggap uang yang berada dalam rekening berbeda. Selain itu, keberadaannya juga diakui negara.

Sementara itu, IR Baroni, Sekretaris MUI kota Malang pun memberikan komentar senada yang dimuat diharian JawaPos Radar Malang tersebut. Ia mengatakan bahwa praktik Bitcoin berbeda dengan e-commerce yang transaksinya bisa dilakukan dari jauh dan menggunakan internet. Sebab, ada beberapa aspek penting dalam syarat jual beli itu seluruhnya dilanggar Bitcoin.

Hal itu terkait dengan penyelenggara mata uangnya yang tidak jelas, pihak toko yang menerima, asal muasal uang, serta lembaga keuangan pemerintahan yang menaunginya. “Sudah bisa dipastikan itu (haram), meski belum ada fatwa resmi dari MUI,” terangnya.

Di harian tersebut, merangkum beberapa hal yang melandasi pernyataan haram dari MUI Malang. Beberapa hal tersebut adalah:

  • Bentuk dan nominalnya tidak jelas
  • Negara manapun tidak mengakui jenis uang Bitcoin
  • Berpotensi besar terjadi transaksi ghoror (penipuan)
  • Investasi dengan resiko tinggi
  • Tidak ada otoritas formal yang mengawasi
  • Belum ada keuntungan berinvestasi dengan Bitcoin.

Sementara itu, dituliskan juga terkait dengan komentar salah seorang perencana keuangan idependen, Pandji Harsanto. Ia menyatakan bahwa Bitcoin bukanlah alat pembayaran yang sah. Sehingga belum bisa dimasukkan sebagai salah satu jenis perencanaan keuangan. Bitcoin juga tidak bisa dijadikan sebagai sebuah investasi.

Pandji menganggap Bitcoin tidak mempunyai pengaturan ataupun pengawasan dari lembaga otoritas keuangan. Menurutnya, bahkan BI pun melarang peredaran uang virtual itu. Berinvestasi pada Bitcoin akan mempunyai resiko yang tinggi karena sistemnya belum jelas. Bisa saja terjadi kegagalan saat transaksi berjalan.

Ia mengatakan, “Sistemnya secara virtual, bertambahnya uang pun juga secara virtual, seumpama uang itu sudah ditanamkan, bisa saja menghilang kapan saja, transaksi yang dilakukan dengan Bitcoin juga ilegal, karena tidak dikeluarkan secara resmi oleh BI” katanya.

Minimnya Pemahaman Tentang Bitcoin

Bitcoin memang tidak mudah dijelaskan secara gamblang. Hal itu karena teknologi yang melingkupinya memang teknologi yang mungkin hanya akan bisa dipahami oleh orang-orang IT ataupun para kriptografer. Terlebih banyak cabang ilmu kriptografi yang melatar belakangi teknologi dibalik Bitcoin ini.

Sementara, referensi yang paling banyak ada masih banyak dijumpai dalam bahasa asing. Hal ini tentu juga akan menambah kerumitan pemahaman bagi masyarakat untuk mengetahui secara pasti yang berkaitan dengan Bitcoin. Apalagi rata-rata masyarakat juga sebagian besar masih tidak banyak yang melek teknologi dan informasi.

Belum lagi, munculnya pembiasan-pembiasan pemaknaan kaitannya Bitcoin dengan usaha-usaha MLM dan money game yang banyak bermunculan dan cukup sering diposting dimanapun, baik di sosial media, blog maupun situs-situs lain.

Hal-hal semacam ini semakin membuat orang mempunyai persepsi minor tentang Bitcoin. Padahal dalam konsepnya Bitcoin sudah tersusun dengan jelas dan transparan. Pembiasan-pembiasan tersebut sebetulnya tidak berasal dari Bitcoin. Karena pada dasarnya memang banyak yang menggunakan Bitcoin sebagai alat untuk meraup peserta dari tingkat kepopulerannya saat ini.

Sementara dinamika yang ada di luar, justru cukup kontras. Bahkan makin banyak dari kalangan akademisi, pemangku kebijakan, institusi keuangan maupun perbankan, perusahaan, maupun startup, yang justru makin berusaha mengakrabkan diri dengan teknologi yang melatarbelakangi Bitcoin ini.

KOMENTAR

19 Komentar

  1. reza
    • reza
      • reza
        • andi
          • Sujarwo
      • Nugie
  2. Anggi Soesalit
  3. daff
  4. Ady
  5. toni
  6. The Manner of Cryptografy
  7. idmhdsdk

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional