Pengaruh Blockchain Terhadap Kreativitas dan Seni

Pengaruh Blockchain Terhadap Kreativitas dan Seni

event Komunitas
May 11, 2018 by adi
141
Creative Tech Week menggelar acara simposium pada Kamis lalu berjudul “CryptoCreative”. Even tersebut digelar di New York, mengambil tema “Blockchain’s Impact on Creativity and The Arts”. Ditujukan untuk mengeksplorasi pengaruh blockchain terhadap kreativitas dan seni.
Pengaruh Blockchain Terhadap Kreativitas dan Seni

Acara Simposium yang digelar oleh Creative Tech Week Kamis lalu (10/05/18) berjudul “CryptoCreative” bertempat di New York, mengambil tema “Blockchain’s Impact on Creativity and The Arts”. Secara khusus, acara tersebut memang untuk mengeksplorasi pengaruh blockchain terhadap kreativitas dan seni.

Acara yang berlangsung dari pukul 2 siang hingga 9 malam itu telah mempertemukan baik para pengusaha, pengembang, para seniman, kurator, maupun pihak lain yang telah lebih dulu banyak mempelajari pengaruh blockchain terhadap kreativitas dan seni.

event-cryptocreative
Event CryptoCreative di New York (Gambar: @Cryptograffiti)

Di event tersebut, terbagi menjadi beberapa panel, mulai dengan pembahasan mendasar dan pengenalan tentang blockchain, token, Dapps, dan smart contract, Seni, media dan blockchain, hingga panel khusus tentang penerapan blockchain untuk para musisi dan artis.

Baca Juga: Musicoin – Proyek Crypto Baru Yang Menarik

Sejumlah artis yang hadir di acara tersebut seperti Casey Pearl, Tatiana Moroz, Jonathan Mann, DJ Pepe, Scarab X, hingga juga pihak dari SigularDTV. Sedangkan dipanel untuk dunia seni, hadir sejumlah nama seperti ArtProject Decentralized, John Crain, Pixura, Theo Goodman, Jeff Zirlin dari Rare Pepe Foundation, Jason Rosenstein dari Axie Infinity, Archetype, dan juga Yiying Lu dari Designer in Tech.

Bitcoin, Blockchain dan Seni

Bitcoin, blockchain dan dunia seni memang telah menjadi bagian yang telah melekat satu sama lainnya. Interaksi itu dapat dilihat dari banyaknya pihak yang mulai ikut berpartisipasi di dalamnya. Baik dari para seniman dari kalangan pencipta dan penikmat musik, seni lukis, penulis buku, hingga kalangan enterpreneur dan pebisnis di segmen yang sama.

Baca Juga: Bitcoin dan Karya Seni

Secara lebih khusus, dunia kripto telah menjadi membuka segmentasi tersendiri di dalam dunia seni. Para seniman yang telah banyak berkecimpung di dunia bitcoin dan blockchain, mempunyai metodenya sendiri dalam menterjemahkannya menjadi sebuah karya.

Ulasan menarik yang dituliskan di Bloomberg, Kamis lalu misalnya, cukup apik dalam menggambarkan bagaimana para seniman kripto mencari berbagai macam ide untuk karya-karyanya. Sebut saja seperti Michael Jacson pemilik Mangrove Capital yang juga pernah menjabat sebagai COO Skype, telah membuat sebuah karya berjudul “Yellow Lambo”. Michael bahkan telah menghabiskan dana sebesar USD 400.000 atau kurang lebih senilai 5,6 milyar rupiah.

Michael, menghabiskan dana tersebut untuk membeli lampu neon dengan lampu berwarna kuning sepanjang 10 kaki. Lampu panjang tersebut kemudian disusun sedemikan rupa membentuk 42 huruf kuning yang membentuk sebuah address smart contract milik platformnya.

Lain lagi dengan seniman di Cryptograffiti, mendapat ide baru lagi saat menanggapi komentar Jamie Dimon, JPMorgan. Saat itu, Dimon memberikan komentar yang menyebut kripto dengan “Terrible store of value” (penyimpan nilai yang mengerikan).

Terrible store of value
“Terrible store of value”, karya Cryptograffiti (Gambar: cryptograffiti.com)

Seniman di Cryptograffiti lantas menjawabnya dengan karya yang sama berjudul “Terrible store of value”, dengan foto Jamie Dimon di dalam karyanya. Cryptograffiti menilai sosok Jamie Dimon itu mencerminkan kepercayaan publik terhadap institusi perbankan tradisional yang mulai retak di dalam karyanya.

Baca Juga: Titik Temu Antara Bitcoin dan Dunia Seni

Karya belatar foto Jamie Dimon itu, bahkan dilelang dengan harga USD 33.000, atau senilai 462,8 juta rupiah, sungguh fantastis. Kabarnya, karya cryptograffiti tersebut bakal menjadi salah satu dari banyak karya lainnya yang bakal dilelang seni untuk kegiatan amal, bertempat di New York, tanggal 12 Mei esok.

Banyaknya keterlibatan para seniman dalam dunia bitcoin dan cryptocurrency secara umum ini tidak terlepas juga karena perkembangan teknologi. Christiane Paul, asisten kurator di Whitney Museum of American Art yang juga seorang direktur di Sheila C. Johnson Design Center, menilai bahwa blockchain mempunyai banyak potensi besar. Paul mengatakan bahwa “Seniman akan selalu terlibat dengan teknologi baru. Sangat penting bagi seniman untuk menangkap momen-momen tertentu sebagai bagian dalam evolusi budaya dan teknologi,” jelasnya.

Baca Juga: Seniman Berbakat Buat Whitepaper Bitcoin Di atas Plat Aluminium

Selain itu, ada juga karya yang mungkin akan dinilai cukup ekstrim. Salah seorang seniman bernama Kevin Abosch, membayangkan dirinya sebagai sebuah koin kripto, lantas mewujudkan dalam sebuah proyek kripto bernama IAMA Coin. Kevin lantas membuat sebuah karya berupa tulisan address smart contract proyeknya menggunakan sebuah stempel karet dengan tinta dari darahnya sendiri.

Inisiatif tersebut dilakukan, karena dalam proyeknya, Kevin membayangkan dirinya sendiri sebagai sebuah token kripto. Jadi Kevin merepresentasikan darahnya sendiri tersebut di dalam karyanya. Kevin membuat 100 jenis karya yang sama. Asumsinya di 100 karya fisiknya itu, dapat merepresentasikan 10 juta token kripto di proyeknya.

Sementara di seniman lain, juga banyak mendapatkan ide-ide dunia kripto di dalam karyanya. Misalnya saja di crptoart.com, yang menjual karyanya dalam beberapa edisi dengan jumlah yang terbatas. Belum lagi seperti LynxArtCollection dengan beberapa karyanya yang dicetak di atas plat aluminium.

Add a comment